PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS UNTUK SEMUA

Ledakan tawa menggema di sebuah kelas di sebuah perguruan tinggi ketika seorang mahasiswa, yang notabene adalah lulusan sekolah desa, sedang mempresentasikan sebuah bahan perkuliahan dengan menggunakan bahasa Inggris. Begitu banyak kesalahan berbahasa yang dilakukannya tanpa sadar hingga tampak konyol bagi teman-temannya. Begitulah label-label seperti “orang desa”, “dasar udik” dan sebagainya yang menyertai tawa para intelektual muda itu harus ditelan mentah-mentah oleh mahasiswa itu. Ironisnya, kejadian-kejadian serupa diatas sudah sering bahkan terlalu biasa terjadi di kalangan masyarakat pendidikan kita.

Mengerikan ternyata kalau harus melihat kenyataan akan perbedaan yang sangat mencolok antara lulusan sekolah dari desa dan kota. Begitu sangat berbeda. Lulusan sekolah kota begitu sangat fasih berbicara bahasa Inggris bahkan terkadang sangat mirip dengan seorang penutur asing. Berbeda dengan seorang lulusan desa yang bahkan untuk mengucapkan satu kata dalam bahasa Inggris pun begitu sangat kesulitan.

Apa yang terjadi dengan pendidikan kita saat ini hingga sebuah ilmu bahasa Inggris pun hanya bisa diakses oleh masyarakat kota dan tampak langka di desa. Era otonomi daerah dan pemberdayaan sekolah-sekolah lokal termasuk desa yang banyak di gembar-gemborkan para ahli pendidikan kita ternyata hanya isapan jempol belaka. Semboyan pendidikan untuk semua, education for all, ternyata belum sungguh terealisasi secara merata dalam kehidupan  pendidikan bangsa kita. Bukankah kenyataan ini semakin menempatkan sumber daya manusia desa dalam posisi yang tersubordinatif hanya karena faktor penguasaan bahasa Inggris.

Begitu menjamurnya lembaga kursus bahasa Inggris di kota pun menjadi semakin memperlihatkan bahwa bahasa Inggris hanya konsumsi orang kota atau orang kaya saja. Itulah mengapa bahasa Inggris tampak begitu berkelas, bergengsi dan prestigious.

Perlulah kita sadari bahwa bahasa apapun di dunia ini merupakan sebuah produk luar biasa dari sekelompok manusia yang telah menggunakannya selama beratus-ratus tahun melalui proses yang tiada henti. Bahasa Inggris, bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah sesungguhnyalah sama, yaitu sebagai alat komunikasi. Bahasa bukanlah simbol prestisme, ideology atau golongan tertentu. Masyarakat selama ini telah salah menilai fungsi dan posisi sebuah bahasa.

Sebagai bahasa internasional, bahasa Inggris adalah sekumpulan kode-kode komunikasi yang berhak diakses oleh semua orang di dunia ini baik sebagai bahasa pertama, kedua atau bahasa asing. Sayangnya, di Indonesia, hanya sekelompok orang saja yang bisa menikmati hak itu. Tidak salah lagi mereka adalah orang kota dan orang kaya. Pola kelangkaan penguasaan bahasa Inggris di tengah masyarakat kita tampaknya memang dipertahankan demi kepentingan bisnis pendidikan atau komersialisasi pendidikan. Kita bisa amati begitu mahalnya kursus-kursus berbahasa Inggris. Sekolah-sekolah formal di perkotaan pun tak mau ketinggalan memanfaatkan situasi ini dengan membasiskan pendidikannya setaraf pendidikan internasional agar pemasukan keuangan sekolah meningkat. Maklum saja untuk menggaji guru mata pelajaran yang bisa berbahasa Inggris dibutuhkan dana yang tak kecil.

Akibatnya guru-guru bahasa Inggris yang bermutu pun hanya terpusat di kota dimana tawaran gaji atau honor besar sedang menanti. Bagi mereka yang tidak bisa diterima mengajar di kota, dengan terpaksa harus pergi ke desa dan mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah desa dengan gaji atau honor yang tak menentu. Kualitas pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah desa pun menjadi tidak maksimal sehingga wajar bila kualitas lulusannya pun dipertanyakan. Berusaha mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris melalui kursus-kursus pun hampir tidak mungkin karena di desa kursusan tidak mungkin ada. Maklumlah, tidak ada untungnya juga membangun kursusan di desa.

Pemerintah, Perguruan tinggi dan Pendidikan bahasa Inggris

Pemerintah yang saat ini sedang galak memberdayakan masyarakat desa dalam rangka otonomi daerah sebaiknya memperhatikan persoalan pendidikan bahasa Inggris sebagai salah satu faktor pengembangan. Semboyan “bahasa Inggris untuk semua” sebaiknya mulai dikampanyekan dan direalisasikan seiring dengan semboyan “Pendidikan untuk semua” melalui sejumlah kebijakan pendidikan. Pemerataan sumber daya pengajar bahasa Inggris sebaiknya dilakukan melalui kebijakan pendidikan nasional yang mengatur mengenai masalah mutasi dan penempatan guru di sekolah-sekolah seluruh Indonesia baik desa, kota bahkan pedalaman. Pemerintah daerah diharapkan pula semakin meningkatkan peranannya dan dukungannya dalam mensosialisasikan bahasa Inggris sebagai bahasa yang tidak bersifat elitis tetapi egaliter. Hal itu bisa dilakukan bila pemerintah daerah mulai meningkatkan kualitas pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah desa sehingga orang-orang desa tidak lagi melihat bahasa Inggris sebagai bahasa eksklusif.

Selain pemerintah, perguruan tinggi khususnya yang concern di bidang pendidikan bahasa Inggris diharapkan ikut berperan pula dalam sosialisasi bahasa Inggris di masyarakat Indonesia. Perguruan tinggi bisa memulainya dengan mewacanakan gerakan pendidikan bahasa Inggris bagi pengembangan masyarakat desa, tentunya disesuaikan dengan kultur setempat masyarakat terkait. Selain itu perlu pula diwacanakan dikalangan akademisi mengenai fenomena marginalisasi bahasa daerah seiring eksistensi bahasa nasional dan internasional. Bagaimana masyarakat dirubah paradigma sempitnya tentang bahasa Inggris yang elitis merupakan tantangan bagi perguruan tinggi khususnya yang bergerak dalam bidang pendidikan guru.

Keberadaan lembaga-lembaga kursus bahasa Inggris diharapkan pula tidak hanya berkutat pada pola-pola komersialisasi tetapi diimbangi dengan kegiatan-kegiatan sosialnya untuk masyarakat luas. Semakin besar sebuah institusi bisnis pendidikan hendaknya semakin diikuti dengan besarnya tanggung jawab sosial mereka untuk mengembangkan masyarakat desa yang selama ini tak berkesempatan menikmati pendidikan yang layak. Pemerintah dalam hal ini masih dibutuhkan untuk mengawasi kinerja institusi bisnis pendidikan informal minimal melalui sebuah regulasi. Semuanya itu dilakukan demi memperkecil education gap dalam masyarakat.

Belajar dari India, kita sebaiknya mulai menyadari bahwa pembelajaran bahasa Inggris tidaklah berarti meninggalkan bahasa lokal maupun nasional kita. Dengan mempelajari bahasa Inggris kita semakin dimampukan untuk ikut serta dalam dinamika kehidupan internasional dengan tetap berpegang pada karakter local genious kita. Bisa kita bayangkan bila seorang India yang tinggal di desa dan bermata pencaharian sebagai petani mampu berbicara bahasa Inggris secara fasih walau kesehariannya tetap menggunakan bahasa daerahnya. Orang India tidak pernah merasa lebih rendah dari orang-orang asing karena mereka melihat bahwa semua budaya adalah sama termasuk bahasanya. Paham Oksidentalisme, yang menganggap budaya barat lebih tinggi dari budaya manapun, dikikis dengan paham Orientalisme India, yang menganggap bahwa budaya timur atau barat adalah sama. Bagaimanakah dengan kita?

Yohanes Sanaha Purba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s